, ,

Dalam Upaya Tingkatkan Minat Baca, DWP Cimahi Jadikan Ibu sebagai Garda Terdepan Literasi Keluarga

oleh -1225 Dilihat

Ibu sebagai Garda Terdepan: Strategi Jitu DWP Cimahi Tanamkan Budaya Baca dari Keluarga

Diskusi Cimahi– Dalam gelombang era digital yang kian tak terbendung, gawai telah menjadi “teman bermain” baru bagi anak-anak. Layar yang menyala-nyaca seringkali lebih menarik perhatian daripada halaman buku yang berderet. Di tengah tantangan inilah, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Cimahi mengambil peran strategis dengan menempatkan keluarga, dan khususnya para ibu, sebagai benteng utama untuk membangun minat baca anak.

Literasi Keluarga: Fondasi Membangun Masyarakat Pembaca

Ketua DWP Kota Cimahi, Noor Qodariah Harjono, dengan tegas menyatakan bahwa kunci membangun budaya baca masyarakat berawal dari rumah. “Keluarga kecil dulu, yang inti dulu,” ujarnya, menegaskan pendekatan yang dimulai dari unit terkecil masyarakat. Ia menyadari betapa derasnya gempuran dunia digital yang membuat anak-anak lebih akrab dengan gawai ketimbang buku, sementara tingkat keterbacaan masyarakat masih di bawah rata-rata.

“Bagaimana mereka bisa memahami, bisa suka dulu dengan membaca. Jadi tantangan yang sekarang sedang berlomba-lomba dengan digital, minimal dari peran ibu terutama. Karena sentra dalam keluarga itu adalah peran ibunya menggiatkan literasi di dalam keluarga,” jelas Noor.

Ibu sebagai Role Model: Teladan Lebih Kuat dari Sekadar Perintah

Noor menekankan sebuah prinsip pendidikan yang sering terlupakan: keteladanan. Kebiasaan membaca tidak cukup hanya diajarkan dengan kata-kata, tetapi harus dicontohkan dalam tindakan nyata. “Kalau misalnya ibunya tidak suka membaca, bagaimana anaknya mau membaca?” tambahnya.

Dalam Upaya Tingkatkan Minat Baca, DWP Cimahi Jadikan Ibu sebagai Garda Terdepan Literasi Keluarga
Dalam Upaya Tingkatkan Minat Baca, DWP Cimahi Jadikan Ibu sebagai Garda Terdepan Literasi Keluarga

Baca Juga: Tirai Bisnis Haram Pasutri Pengedar Ganja di Cimahi Dibuka, 3,7 Kg Disita

Pernyataan ini menyentuh inti persoalan. Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka lebih mudah menyerap apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Melihat ibu asyik terlibat dalam sebuah buku, atau bahkan sekadar membaca koran di pagi hari, menciptakan gambaran kuat bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan dan bernilai.

Atas dasar ini, DWP Cimahi secara aktif mendorong para anggotanya—yang merupakan istri Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ASN perempuan—untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Dengan menjadi role model, para ibu diharapkan dapat menularkan virus kecintaan membaca kepada anak-anak mereka di rumah. “Sehingga ada contoh dari anak-anaknya untuk mereka juga mengikuti gaya ibunya, tidak melulu dengan memegang HP,” ujar Noor.

Strategi Adaptif: Memanfaatkan Digital sebagai Sekutu, Bukan Musuh

Alih-alih menolak teknologi, DWP Cimahi justru mengajak para orang tua untuk bersikap adaptif dan cerdas memanfaatkannya. Noor mengakui bahwa di dalam gawai tidak semuanya negatif. Kota Cimahi telah menyediakan platform e-Lib (perpustakaan elektronik), sementara di tingkat nasional terdapat aplikasi iPusnas.

“Sekarang bisa disiasati. Kalau anak tidak suka membaca buku fisik, kita dorong ke e-Lib itu sehingga yang dia buka di dalam HP adalah bacaan-bacaan yang memungkinkan dia bisa berpikir logis, bisa berpikir yang baik-baik. Bukan nge-scroll konten yang aneh-aneh,” katanya.

Strategi ini sangat relevan dengan realitas zaman. Daripada berusaha memisahkan anak dari gawai, lebih baik mengalihkan penggunaannya untuk hal-hal yang produktif. Dengan demikian, medium digital yang sering dianggap sebagai biang keladi menurunnya minat baca, justru bisa diubah menjadi jembatan untuk memasuki dunia literasi.

Sinergi dengan Pemerintah Daerah: Memperkuat Fondasi Literasi

Pendekatan DWP Cimahi ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Cimahi, dalam hal ini Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarda). Kepala Disarda Kota Cimahi, Dani Bastiani, menilai bahwa fokus pada segmen keluarga adalah langkah yang sangat tepat.

“Segmen keluarga ini sangat tepat, karena dari sanalah minat baca bisa tumbuh. Peran serta perempuan juga sangat penting dalam mengembangkan literasi masyarakat melalui keluarga,” ujarnya.

Dani menambahkan bahwa Disarda berupaya menyinergikan program literasinya dengan berbagai komunitas dan organisasi, termasuk Dharma Wanita. Tujuannya agar gerakan literasi tidak hanya hidup di sekolah atau perpustakaan umum, tetapi benar-benar tertanam kuat sejak dini di dalam rumah, di lingkup keluarga.

Transformasi perpustakaan konvensional menuju perpustakaan digital juga menjadi bagian dari strategi ini. “Jika dulu perpustakaan lebih mengandalkan buku fisik, kini masyarakat bisa mengakses bacaan digital melalui aplikasi e-Lib yang dapat digunakan secara mudah dan fleksibel,” kata Dani.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.