WA Mantap Cimahi: Terobosan Digital yang Terhambat di Gerbang Lansia
Diskusi Cimahi– Di era di mana segalanya serba instan dan digital, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi meluncurkan terobosan layanan publik yang menjanjikan kemudahan: WA Mantap. Layanan terpadu berbasis WhatsApp ini, yang resmi diluncurkan pada September 2025, dirancang untuk memangkas birokrasi dan menjadikan pemerintah lebih dekat dengan warganya. Namun, di balik antusiasme yang menyambut baik inisiatif ini, tersembunyi sebuah tantangan klasik di era modern: kesenjangan digital yang dialami oleh para lansia.
WA Mantap: Layanan Semua dalam Satu di Ujung Jari
WA Mantap bukan sekadar chatbot otomatis yang memberikan balasan standar. Menurut Bambang Supriyadi, Kepala Bidang Penyelenggaraan E-Government dan Persandian Diskominfo Kota Cimahi, sistem ini adalah sebuah pintu gerbang digital terpadu. Masyarakat tidak perlu lagi membuka banyak situs web atau, yang lebih merepotkan, datang langsung ke kantor pelayanan.
Cukup dengan membuka WhatsApp dan mengakses nomor WA Mantap, warga Cimahi dapat terhubung dengan berbagai layanan pemerintah yang telah terintegrasi. Mulai dari mengajukan aduan, mengurus perizinan, hingga mengakses informasi tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ke depan, integrasi akan diperdalam dengan database Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), memastikan akses yang lebih luas dan informasi yang lebih akurat.

Baca Juga: Sebuah Loncatan Sejarah: Dari Setir Mikrolet ke Kursi Wali Kota, Ini Perjalanan Hidup Ngatiyana
“Intinya, kemudahan akses informasi dan layanan hanya melalui satu pintu,” ujar Bambang, menggambarkan visi sederhana namun powerful di balik layanan ini.
Tantangan di Ujung Sana: Lansia dan Dunia Layar Sentuh
Meski desainnya dirancang untuk memudahkan, implementasi WA Mantap tidak semulus yang dibayangkan. Diskominfo Cimahi menyadari bahwa tidak semua lapisan masyarakat mampu beradaptasi dengan kecepatan yang sama. Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi fokus perhatian utama.
“Kalau anak-anak sekolah sudah terbiasa dengan WhatsApp, tapi berbeda dengan lansia. Mereka butuh pendampingan,” tutur Bambang pada Senin (6/10/2025).
Pernyataan ini menyentuh akar persoalan. Bagi generasi yang tumbuh tanpa gawai, navigasi di dunia digital bisa terasa seperti menjelajahi labirin asing. Kesulitan itu beragam, mulai dari hal teknis seperti:
-
Kesulitan mengetik di layar sentuh yang kecil.
-
Kebingungan memahami alur menu dan opsi yang tersedia.
-
Keterbatasan penggunaannya, mungkin hanya sebatas menerima panggilan video dari keluarga.
-
Rasa takut dan khawatir salah menekan atau menjadi korban penipuan.
Bagi mereka, interaksi tatap muka dengan petugas yang ramah di kelurahan mungkin masih terasa lebih “mantap” daripada percakapan dengan chatbot yang dingin, sekalipun itu lebih cepat.
Melesat ke Depan, Tanpa Meninggalkan Siapa Pun di Belakang
Menyadari tantangan ini, Pemkot Cimahi melalui Diskominfo tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memastikan bahwa transformasi digital ini inklusif dan tidak meninggalkan kelompok rentan.
Langkah utama yang diambil adalah pendampingan dan sosialisasi intensif. Sosialisasi tidak hanya sekadar memperkenalkan fitur, tetapi juga membangun kepercayaan diri lansia untuk menggunakan teknologi. Hal ini bisa dilakukan dengan:
-
Membuka Pos Pendampingan Digital di kantor kelurahan atau pusat kegiatan lansia, dimana petugas atau relawan siap membantu langkah demi langkah.
-
Menyelenggarakan Kelas Melek Digital dengan modul yang disederhanakan, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan praktik langsung.
-
Memanfaatkan Peran Keluarga, dengan mengedukasi anak dan cucu untuk menjadi mentor pertama bagi orang tua atau kakek-nenek mereka di rumah.





