Demo Ojol di DPR: Suara Pengemudi yang Tak Tertahan Hujan dan Kebijakan
Diskusi Cimahi– Hujan deras yang mengguyur kawasan Senayan siang itu tidak mampu meredakan gelora perlawanan. Sejak pukul 13.45 WIB, gemuruh klakson bersahutan mulai menggetarkan suasana di depan Gedung DPR RI. Mereka adalah para pengemudi ojek online (ojol) dari Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia, yang dengan basah kuyup namun penuh tekad, menyampaikan amarahnya atas kebijakan yang mereka anggap mematikan penghidupan.
Aksi demo yang tertuang dalam berita di atas bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ia adalah potret nyata dari pergulatan ribuan, bahkan jutaan, pekerja di ekosistem digital yang merasa dieksploitasi oleh sistem yang seharusnya memberdayakan.
Perjalanan Melawan Hujan dan Rintangan
Rombongan massa aksi telah memulai perjalanan dari markas Garda Indonesia di Cempaka Mas, Jakarta Pusat. Dengan konvoi ratusan, mungkin ribuan, sepeda motor, mereka bergerak membentuk barisan panjang yang dipimpin sebuah mobil bak terbuka berwarna putih. Rute yang direncanakan ambisius: melewati Monumen Patung Kuda, berhenti untuk berorasi di depan Istana Negara dan Gedung Kementerian Perhubungan, sebelum akhirnya tiba di DPR.

Baca Juga: Upaya Menjaga Warisan Hindia Belanda Lewat Pemugaran Rumah Jagal Cimahi
Namun, alam seolah menguji kesungguhan mereka. Sejak pukul 12.30 WIB, hujan deras mulai menyirami ibu kota. Cuaca yang tidak bersahabat memaksa mereka mengubah rute, melewatkan dua titik strategis dan langsung menuju sasaran akhir: Gedung DPR RI. Jaket dan pakaian mereka basah menyatu dengan keringat dan air hujan, sebuah metafora pahit tentang betapa rapuhnya posisi mereka—diterpa badai kebijakan dan hujan kehidupan secara bersamaan.
Orasi, Lagu Perlawanan, dan Tuntutan yang Jelas
Sesampainya di depan gedung wakil rakyat, suasana langsung berubah menjadi hibrid antara festival dan mimbar protes. Pengeras suara menggelegar, diisi oleh orasi yang menyayat-nyayat, diiringi oleh lagu-lagu perlawanan legendaris Iwan Fals. Lagu-lagu seperti “Bento” dan “Buruh Tani” seakan menemukan konteks barunya di era digital, menjadi soundtrack perjuangan para “pejuang aplikasi”.
Spanduk-spanduk segera dipasang di pagar besi Gedung DPR, mengkristalkan isi tuntutan mereka. Salah satu yang paling mencolok berbunyi: “Potongan Aplikasi 10% Harga Mati, Bukan Kawan Kami yang Dimatikan!”. Kalimat itu sederhana namun sarat makna. Ini adalah penolakan terhadap kebijakan pemotongan komisi oleh platform ojol sebesar 10% yang dinilai memberatkan. Bagi para pengemudi, potongan itu bukan sekadar angka, tapi menyangkut kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar keluarga: biaya sekolah anak, cicilan motor, dan beras di meja makan.
Semangat yang Tak Terguyur Hujan
Yang menarik, hujan reda sekitar sepuluh menit setelah aksi dimulai. Seolah-olah langit memberikan panggung bagi mereka untuk menyuarakan aspirasinya dengan lebih jelas. Momentum ini dimanfaatkan dengan baik. Beberapa pengemudi perempuan dengan berani mengambil alih mikrofon. Suara mereka mungkin tidak sebesar laki-laki, tetapi semangatnya membara.
“Hidup ojol! Hidup ibu-ibu! Potongan 10 persen harga mati!” teriak mereka, disambut gemuruh oleh massa aksi. Kehadiran pengemudi perempuan ini memberikan dimensi baru pada protes. Mereka adalah simbol dari kelompok yang menanggung beban ganda: sebagai tulang punggung keluarga sekaligus pekerja di jalanan yang penuh risiko.
Melampaui Aksi Seremonial: Akar Masalah yang Dalam
Demo ini tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah puncak gunung es dari ketidakpuasan yang telah lama mengendap. Persoalan potongan komisi hanyalah satu dari banyak masalah yang dihadapi para pengemudi ojol. Mereka juga kerap menyoroti soal tarif dasar yang dinilai tidak manusiawi, sistem algoritma yang tidak transparan, hingga mekanisme sanksi yang sepihak.
Mereka menuntut dialog yang setara dengan perusahaan teknologi ride-hailing dan yang lebih penting lagi, payung hukum yang jelas dari pemerintah. Mereka ingin diakui bukan sebagai “mitra” yang independen, tetapi sebagai “pekerja” yang layak mendapatkan jaminan sosial, tunjangan, dan perlindungan kerja. Status “mitra” selama ini dianggap sebagai cara perusahaan untuk melepas tanggung jawab sebagai pemberi kerja.
DPR di Pusar Perhatian: Antara Harapan dan Kekecewaan
Pemilihan DPR RI sebagai tujuan akhir demo sangat simbolis. Gedung itu adalah representasi dari suara rakyat. Kehadiran massa di depannya adalah pengingat keras bahwa para wakil rakyat kerap lalai menangkap aspirasi konstituennya. Para pengemudi ojol, dengan sepeda motornya, datang langsung untuk mengetuk pintu dan jendela gedung yang megah, meminta perhatian yang selama ini mungkin terabaikan.
Mereka berharap agar DPR dapat melahirkan regulasi yang melindungi nasib mereka, seperti revisi Undang-Undang Lalu Lintas atau bahkan peraturan khusus yang mengatur hubungan antara platform digital dan pekerja gig-ekonomi.
Demo Garda Indonesia di DPR pada 17 September 2025 adalah sebuah babak penting dalam perjuangan kaum pekerja digital di Indonesia. Mereka menunjukkan bahwa solidaritas dan keberanian masih hidup. Mereka membuktikan bahwa hujan dan rintangan tidak mampu membungkam suara yang memperjuangkan keadilan.
Aksi ini bukan tentang menolak kemajuan teknologi, tetapi tentang memastikan bahwa kemajuan itu inklusif dan berkeadilan. Mereka meminta agar roda-roda kemajuan tidak menggilir hak-hak dasar mereka sebagai pekerja.
Kini, bola ada di pihak DPR, pemerintah, dan perusahaan platform. Apakah mereka akan mendengarkan jeritan “Harga Mati!” itu, atau justru membiarkannya tenggelam dalam gemuruh ibu kota yang tak pernah berhenti? Jawabannya akan menentukan masa hidup ratusan ribu keluarga dan masa ekosistem transportasi online yang lebih berkeadilan di Indonesia.





